210 Manuskrip Kuno Keraton Surakarta Mulai Jalani Digitalisasi

210 Manuskrip Kuno Keraton Surakarta Mulai Jalani Digitalisasi

KOTA SOLO, JAWA TENGAH – Keraton Surakarta mulai melakukan digitalisasi terhadap ratusan manuskrip kuno yang tersimpan di Perpustakaan Sasana Pustaka. Sebanyak sekitar 210 manuskrip atau naskah kuno, dengan total mencapai sekitar 21 ribu halaman, ditargetkan dialihmediakan ke dalam bentuk digital.

Langkah ini dilakukan untuk menyelamatkan koleksi manuskrip yang sebagian kondisinya mulai memprihatinkan akibat faktor usia. Digitalisasi juga diharapkan dapat mengurangi intensitas penggunaan naskah asli sekaligus membuka akses pengetahuan yang tersimpan di dalamnya bagi peneliti, akademisi, mahasiswa, maupun masyarakat luas.

Proyek digitalisasi tersebut merupakan kolaborasi Keraton Surakarta, Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa), dan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, dengan dukungan Endangered Archives Programme (EAP) British Library serta pendanaan dari Arcadia Foundation.

Perwakilan Perpusnas sekaligus Manassa, Aris Riyadi, mengatakan proyek tersebut akan berlangsung selama sekitar dua tahun. Tidak hanya melakukan pemotretan atau pemindaian halaman, tim juga akan menyusun katalog dan metadata serta melakukan konservasi dan reparasi terhadap manuskrip yang mengalami kerusakan.

Menurut Aris, keterbukaan Keraton Surakarta terhadap proses digitalisasi menjadi langkah penting untuk memperluas akses terhadap manuskrip yang selama ini tersimpan di lingkungan keraton.

Hasil digitalisasi nantinya akan disimpan di sejumlah lembaga yang terlibat, termasuk Keraton Surakarta, Perpusnas, dan British Library. Salinan digital tersebut diharapkan dapat memperluas akses terhadap khazanah literasi Nusantara hingga ke tingkat internasional.

Manuskrip yang tersimpan di Sasana Pustaka tidak hanya berisi catatan sejarah. Koleksi tersebut memuat pengetahuan dalam berbagai bidang, seperti agama, filsafat, sastra, kesenian, arsitektur, pengobatan, primbon, hingga pranata mangsa.

Sejumlah peneliti bahkan selama ini memanfaatkan koleksi tersebut untuk mengkaji berbagai pengetahuan masa lampau, termasuk ramuan herbal, sistem penanggalan dan pertanian Jawa, hingga arsitektur bangunan tradisional.

Digitalisasi menjadi bagian penting dalam upaya menjaga agar pengetahuan tersebut tidak hilang dimakan zaman. Dengan tersedianya salinan digital, masyarakat dapat mempelajari isi manuskrip tanpa harus terlalu sering menyentuh dan membuka naskah aslinya.

Perpustakaan Sasana Pustaka sendiri memiliki sejarah panjang. Perpustakaan tersebut didirikan oleh Pakubuwono X pada 1920. Berbagai koleksi yang sebelumnya tersebar kemudian dikumpulkan di lingkungan keraton, sebelum sebagian koleksinya dipindahkan ke Perpustakaan Radyapustaka pada 1926.

Selain mendukung pelestarian fisik, proyek ini juga melibatkan mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) dalam proses pelaksanaannya.

Dengan target 210 manuskrip atau sekitar 21 ribu halaman, digitalisasi ini diharapkan tidak sekadar mengubah bentuk naskah dari fisik menjadi digital, tetapi juga membuka kembali akses terhadap pengetahuan dan literasi masa lalu yang tersimpan di Keraton Surakarta.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *