Pesantren Islam Internasional, Azharica Siap Cetak Generasi Islam Target Operasional 2027

Pesantren Islam Internasional, Azharica Siap Cetak Generasi Islam Target Operasional 2027

KOTA SOLO, JAWA TENGAH – Yayasan Daarul Qur’an Surakarta (DQS) bekerja sama dengan Yayasan Alif Tsalatsah Istiqomah Salatiga mendirikan Pesantren DQS Al-Azhar Internasional di Desa Pabelan, Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar.

Pesantren setingkat Madrasah Aliyah (MA) ini direncanakan akan diberi nama Azharica atau Al Azhar Insan Cendikia. Sekolah ini akan menerapkan dua standar pendidikan, yakni kurikulum agama dari Al-Azhar Kairo, Mesir, dan kurikulum pendidikan formal yang mengadopsi sistem Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Insan Cendekia (IC).

Ketua Yayasan DQS, Adib Adjiputra, mengatakan pesantren tersebut dibangun untuk mencetak santri yang memiliki fondasi keagamaan sekaligus kemampuan akademik yang kuat seperti ulama hingga cendekiawan muslim di berbagai bidang, sains dan teknologi.

Terkait kurikulum keagamaan, Adib menyebut pihaknya telah mendapatkan izin dari pihak Al-Azhar. Saat ini, salah satu syekh utusan dari Kairo juga sudah berada di Kota Solo untuk membantu tahapan persiapan pesantren.

“Bulan September nanti, ada tim dari Kedutaan Besar Mesir yang akan datang untuk mengurus legalitas kerja sama. Nantinya, Memorandum of Understanding (MoU) akan diteken bersama langsung dengan Al-Azhar Kairo, sehingga materi kurikulum pesantren mengadopsi kurikulum dari sana,” kata Adib saat menggelar jumpa pers di Solo, Rabu (26/8/2026).

Sementara itu, ia mengatakan untuk kurikulum pendidikan formal, DQS menjalin kerja sama pendampingan dengan MAN IC Pekalongan.

Ia menjelaskan Madrasah DQS Al-Azhar Insan Cendekia sudah mendapat perizinan dari Direktorat Jenderal (Ditjen) Pendidikan Islam Kementerian Agama.

Adib menjelaskan peletakan batu pertama proyek pembangunan pesantren telah dilaksanakan pada pertengahan Juli lalu.

Ia mengatakan lokasinya berada tepat di sebelah kawasan Matesih, Karanganyar, di atas lahan yang dibebaskan oleh Yayasan Alif Tsalatsah Istiqomah dengan luas sekitar 7.000 meter persegi.

Ia mengatakan proses pembangunan fisik saat ini mencapai 20 persen yang ditargetkan rampung pada April 2027, sehingga fasilitas pesantren sudah bisa digunakan pada tahun ajaran baru di bulan Mei 2027.

Sementara itu penjaringan siswa baru bakal dimulai pada 30 Oktober 2026 hingga Juni 2027 yang dibagi menjadi tiga gelombang.

“Setiap angkatan nantinya ditarget sekitar 100 santri, yang terdiri atas 50 santri putra dan 50 putri, dengan fasilitas asrama dan ruang kelas dua lantai. Untuk biaya pendidikan, kami upayakan tetap terjangkau. Kami juga menyediakan beasiswa untuk calon santri berprestasi dari keluarga tidak mampu,” papar Adib.

Adib berharap pendirian sekolah ini tidak hanya mencetak lulusan yang ahli dalam bidang agama, namun juga dalam bidang sains teknologi.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Dewan Pembina Yayasan Alif Tsalatsah Istiqomah, Isnanto Basuki, mengatakan rencana pendirian pesantren ini sudah dikonsep sejak tiga tahun lalu.

Ia melanjutkan, salah satu latar belakang pendiriannya adalah keprihatinan pihak yayasan terhadap krisis integritas kepemimpinan di Indonesia saat ini.

“Ide kami berawal dari keprihatinan melihat kondisi di negeri ini, di mana sering kali ada kecenderungan oknum pimpinan menyalahgunakan jabatan. Kami ingin berupaya membenahi hal tersebut melalui jalur pendidikan dan agama,” katanya.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *