Wali Kota Solo Apresiasi TPS3R Sangkrah dan Semanggi, Bisa Jadi Contoh Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat

Wali Kota Solo Apresiasi TPS3R Sangkrah dan Semanggi, Bisa Jadi Contoh Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat

KOTA SOLO, JAWA TENGAH – Pengelolaan sampah dari tingkat masyarakat dinilai mampu memberikan manfaat ekonomi sekaligus mengurangi beban sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Hal itu terlihat dari pengelolaan Tempat Pengelolaan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) di Kelurahan Sangkrah dan Semanggi, Kota Solo.

Wali Kota Solo Respati Ardi meninjau langsung TPS3R di dua wilayah tersebut pada Minggu (6/9/2026). Ia mengapresiasi inisiatif masyarakat yang mampu mengubah sampah menjadi sesuatu yang bernilai ekonomi.

Di TPS3R tersebut, sampah organik diolah menjadi pakan magot dan pupuk kompos. Sementara sampah nonorganik dimanfaatkan untuk membuat pot yang kemudian digunakan untuk menanam berbagai jenis buah dan sayuran yang dapat dikonsumsi masyarakat.

Menurut Respati, pengelolaan sampah berbasis masyarakat seperti yang dilakukan di Sangkrah dan Semanggi memiliki potensi ekonomi sekaligus menjadi bagian penting dalam mengurangi volume sampah yang dibuang ke TPA.

“Ini unik, lahan mini tapi bisa punya nilai ekonomi yang luar biasa. Jadi 80 kilo (panen magot) per minggu dari satu RW enam RT dengan rata-rata penjualan Rp6 ribu sampai Rp10 ribu per kilo,” ujar Respati.

Ia bahkan menjadikan TPS3R di Sangkrah dan Semanggi sebagai contoh yang dapat diterapkan di wilayah lain di Kota Solo.

Respati menilai, pengelolaan sampah dari hulu menjadi salah satu kontribusi nyata masyarakat untuk mencegah persoalan sampah di TPA. Terlebih, kondisi tersebut menjadi semakin penting setelah terjadinya kebakaran di TPA Putri Cempo.

“Ini salah satu kontribusi masyarakat. Karena kalau kita melihat hari ini dengan contoh nyata, TPA yang terbakar itu karena gas metana yang lama tertumpuk. Maka dari itu, ini perlu gerakan masif masyarakat untuk pengelolaan di hulu sehingga setelah ini tidak ada lagi kebakaran di Putri Cempo,” jelasnya.

Pemkot Solo, lanjut Respati, akan terus mendorong peningkatan pengelolaan sampah oleh masyarakat. Kelompok-kelompok masyarakat di berbagai wilayah dinilai dapat berperan dalam mengurangi dan mengolah sampah sejak dari sumbernya.

“Karena ini sesuai dengan program prioritas Wali Kota dan arahan Presiden bahwa negara perang melawan sampah. Ini jadi konsentrasi pengelolaan sampah di setiap sudut kota dan kelompok masyarakat bisa mengurai sampah di hulu. Ini serentak dan ada beberapa wilayah di Solo yang melakukan serupa,” tuturnya.

“Harapan setiap wilayah bisa mengelola sampah. Dan sebetulnya sebelum kebakaran saya sudah mencanangkan berulang kali pembatasan sampah masuk ke TPA,” tambahnya.

Pasca kebakaran TPA Putri Cempo, Pemkot Solo juga akan melakukan evaluasi sekaligus memperbaiki tata kelola pengelolaan sampah di sektor hilir.

Selain persoalan lingkungan, Respati turut menyoroti dampak kebakaran terhadap masyarakat, termasuk para pemulung yang selama ini menggantungkan pendapatan dari aktivitas di TPA.

Pemkot Solo menyiapkan program kelompok masyarakat pengelolaan sampah yang diharapkan dapat menjadi sumber pendapatan alternatif bagi warga terdampak.

“Dan untuk masyarakat terdampak, rekan pemulung kita ada program kelompok masyarakat pengelolaan sampah. Sehingga hasilnya bisa dinikmati dan bisa mengganti pendapatan pemulung sampah sebelumnya,” imbuhnya.

Pengelolaan TPS3R di tingkat kelurahan tersebut diharapkan dapat menjadi model pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Selain menekan sampah yang masuk ke TPA, pengolahan dari hulu juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *