KOTA SOLO, JAWA TENGAH – Universitas Tunas Pembangunan (UTP) Surakarta punya cara tersendiri untuk menjaga permainan tradisional agar tetap diminati generasi muda. Melalui inovasi dosen Program Studi Pendidikan Jasmani, UTP mengembangkan Goara-Goara, gabungan permainan tradisional yang dikemas ala ninja warior.
Saat memberikan sambutan Pidato Kebudayaan Mega Diversity, Rektor UTP Winarti menyampaikan, pengembangan Goara-Goara menjadi salah satu bentuk nyata komitmen kampus dalam melestarikan permainan-permainan tradisional.
Menurutnya, permainan tempo dulu tidak cukup hanya dikenalkan, tetapi perlu dikembangkan agar tetap relevan dan menarik bagi generasi saat ini.
“Di depan ada permainan Goara-Goara, olahraga tradisional yang dikembangkan oleh dosen kami, Dr. Slamet Santoso dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Program Studi Pendidikan Jasmani,” ujar Winarti, Rabu (26/08/2026).
Menurutnya, Goara-Goara juga telah disosialisasikan kepada masyarakat dan lembaga pendidikan. Permainan tersebut bahkan telah dikembangkan menjadi ajang perlombaan bertaraf internasional dengan melibatkan peserta dari sejumlah negara.
“Ini sudah kami sosialisasikan karena permainan ini menjadi salah satu kegiatan yang kami lombakan secara internasional. Ada Singapura, Filipina, Bangladesh,” jelasnya.
Winarti menambahkan, Goara-Goara ini memadukan sejumlah permainan tradisional, seperti balap karung, egrang, lompat tali, dan sudamanda. Pengemasan peermainan ala warior ini mampu membuat permainan tradisional semakin dikenal dan diminati generasi muda.
Sementara itu, Dosen Prodi Pendidikan Jasmani UTP, Slamet Santoso mengungkapkan, ide tersebut berawal dari kegelisahannya melihat permainan tradisional yang kini tak lagi ia ihat dimainkan oleh generasi saat ini dan cenderung ditinggalkan oleh anak-anak.
“Permainan tradisional itu sudah mulai luntur. Generasi penerus bangsa cenderung ke permainan-permainan modern, e-sport dan sebagainya,” kata Slamet.
Karena itu, permainan tradisional dikemas kembali agar lebih menarik. Sejumlah permainan tradisional dipadukan dalam satu rangkaian dengan sistem digital.
Goara-Goara memiliki beberapa tingkatan, yakni level 0, level 1, level 2, dan level 3. Pada level 3 terdapat sekitar tujuh hingga delapan permainan yang menguji kemampuan motorik peserta.
Di antaranya permainan bambu dari Nusa Tenggara, balap karung, lompat tali, engklek atau sudamanda, lompat tali berputar, egrang, hingga bowling tradisional. Dalam konsep lengkapnya juga terdapat panjat bambu, namun belum dimainkan karena keterbatasan lapangan.
“Jadi konsepnya memang seperti ninja warior ada permainan untuk kekuatan, kelincahan kaki, keseimbangan, akurasi. Jadi untuk motorik-motorik anak sangat bagus,” jelasnya.
Menurut Slamet, Goara-Goara dapat dimainkan mulai anak usia PAUD, TK hingga mahasiswa. Tingkatan permainan disesuaikan dengan kemampuan peserta.
Yang membuat Goara-Goara berbeda adalah penggunaan teknologi dalam sistem permainannya. Perangkat permainan terintegrasi dengan timer, sound line, tombol dan laptop. Waktu permainan juga dapat ditampilkan melalui layar monitor. Ke depan, UTP berencana melakukan standardisasi seluruh peralatan Goara-Goara. Mulai ukuran egrang, karung, bola, hingga perangkat sasaran dan tombol akan dibuat dengan ukuran yang seragam jika masuk ke dalam cabor.(San.)
