KOTA SALATIGA, JAWA TENGAH – Dosen dan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro (Undip) mengajak ibu-ibu PKK dan warga Kelurahan Kutowinangun Kidul, Kecamatan Tingkir, Kota Salatiga, mengolah limbah kulit nanas menjadi Tepache, minuman fermentasi tradisional berbahan dasar nanas.
Kegiatan ini merupakan bagian dari “Program Pengabdian Interaksi Dosen dan Mahasiswa untuk Pemberdayaan dan Pengembangan Desa (Pengabdian IDM-PPD) Batch II” yang diselenggarakan oleh Pusat Pelaksana Kuliah Kerja Nyata (P2KKN) bersama Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Diponegoro.
Mengusung tema “Pemanfaatan Limbah Kulit Nanas sebagai Minuman Fermentasi Sehat bagi Masyarakat” ini., dosen Undip, Dwi Retno Fatmawati, M.Si, bersama mahasiswa KKN memberikan pelatihan dan sosialisasi praktis kepada warga mengenai cara mengolah kulit nanas menjadi minuman sehat.

Kulit nanas selama ini umumnya dianggap bagian buah yang tidak dikonsumsi dan berpotensi menjadi limbah organik bila tidak diolah. Padahal, kulit nanas masih mengandung gula alami, serat, dan senyawa bioaktif yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku fermentasi.
Tim pengabdian memperkenalkan teknologi fermentasi sederhana yang mudah dipraktikkan di rumah. Tepache dibuat dari kulit nanas segar, gula aren atau gula merah, dan air matang, dengan tambahan rempah alami seperti kayu manis dan cengkeh. Proses fermentasi berlangsung secara alami dengan bantuan mikroorganisme, dan produk dipanen pada hari kedua (H+2) setelah pembuatan.
Kegiatan dilaksanakan dengan pendekatan partisipatif melalui tiga metode utama. Tahap awal adalah sosialisasi tentang potensi kulit nanas sebagai bahan baku minuman fermentasi, prinsip dasar fermentasi, dan pemanfaatan bahan organik. Dilanjutkan demonstrasi tahapan pembuatan tepache, mulai dari penyiapan bahan dan peralatan hingga proses fermentasi. Dan ditutup dengan praktik langsung bersama ibu-ibu PKK dan warga agar peserta mengalami sendiri proses pembuatannya.
Selain Itu, program ini mendukung terwujudnya Sustainable Development Goals (SDGs) Nomor 12 yang berfokus pada Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab. Pengolahan kulit nanas menjadi produk bernilai guna sejalan dengan upaya mengurangi limbah organik melalui pemanfaatan kembali bahan sisa dan penerapan prinsip ekonomi sirkular di tingkat rumah tangga.
Pemateri dalam kegiatan ini, Dwi Retno Fatmawati, M.Si., menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan memperkenalkan cara sederhana memanfaatkan bahan yang selama ini terbuang.
“Kulit nanas sering langsung dibuang, padahal masih bisa diolah menjadi produk yang bermanfaat. Lewat tepache, kami ingin warga mengenal teknologi fermentasi sederhana yang bisa dipraktikkan sendiri di rumah, sekaligus belajar bahwa kebersihan sangat penting dalam mengolah pangan fermentasi. Ini kontribusi kecil kami untuk konsumsi dan produksi yang lebih bertanggung jawab.” Ujarnya.
Antusiasme juga disampaikan salah satu peserta dari kalangan warga. Salah satu peserta kegiatan dari Kelurahan Kutowinangun Kidul, mengaku mendapat pengalaman baru.
“Biasanya kulit nanas langsung kami buang. Ternyata bisa dibuat minuman, dan cara membuatnya tidak rumit. Kami jadi punya ilmu baru dan ingin mencobanya sendiri di rumah.” Ucap Ajeng.
Diharapkan kegiatan ini dapat menumbuhkan kesadaran warga tentang pengolahan limbah organik dan membuka wawasan tentang potensi produk berbasis sumber daya lokal. Pengembangan lebih lanjut, seperti pengujian mutu dan keamanan produk, akan menjadi langkah berikutnya jika tepache hendak diproduksi lebih luas.
Pengabdian Interaksi Dosen dan Mahasiswa untuk Pemberdayaan dan Pengembangan Desa merupakan program P2KKN dan LPPM Universitas Diponegoro yang menggerakkan dosen dan mahasiswa untuk berkolaborasi bersama masyarakat dalam mengembangkan potensi lokal dan menjawab persoalan di desa.

